- Apa yang membuat Car Free Day (CFD) Depok menjadi unik?
- Bagaimana pemilik reptil memanfaatkan kehadiran mereka di CFD Depok?
- Jenis hewan reptil apa saja yang bisa ditemui di CFD Depok?
Baca artikel ini 5x lebih cepat
Liputan6.com, Jakarta - Car Free Day (CFD) di Depok kembali menjadi pusat perhatian warga. Tidak hanya sebagai ruang olahraga dan rekreasi, CFD juga menghadirkan pengalaman unik ketika sejumlah warga membawa hewan peliharaan eksotis seperti ular dan iguana untuk diperkenalkan langsung kepada pengunjung.
Pantauan Liputan6.com di kawasan Jalan Margonda Raya, Minggu (15/2/2026) pagi, tampak antusiasme warga memadati ruas jalan utama kota. Jalan yang biasanya dipenuhi kendaraan bermotor itu berubah menjadi ruang publik yang dipenuhi aktivitas olahraga, hiburan keluarga, hingga edukasi tentang satwa.
Sejak pagi hari, warga terlihat memadati jalur dari Jalan Dahlia hingga lampu merah Juanda. Anak-anak, orang tua, hingga komunitas pecinta hewan berbaur menikmati suasana CFD.
Sejumlah warga datang membawa perlengkapan olahraga, sebagian lainnya memilih bersantai, berswafoto, atau berhenti di titik-titik keramaian yang menampilkan hewan peliharaan.
Kehadiran reptil seperti ular dan iguana menjadi magnet tersendiri, terutama bagi pengunjung yang datang bersama anak-anak. Banyak dari mereka terlihat penasaran, mendekat, dan berinteraksi langsung dengan hewan-hewan tersebut di bawah pengawasan pemiliknya.
“Alhamdulillah enggak ada, dari rawat sejak kecil gak pernah digigit, ini salah satu binatang yang paling bersih, dari pup (kotoran) nya aja jarang,” ujar Lala pemilik ular yang membawa hewan peliharaannya ke CFD Depok.
Ia tampak hadir bersama anaknya di tengah kerumunan CFD Depok dengan membawa tiga ekor ular peliharaan berjenis piton dengan warna dan corak yang berbeda. Uniknya, ular-ular tersebut sengaja digendong dan dibiarkan melilit di tubuhnya, sehingga menarik perhatian para pengunjung CFD.
Edukasi Reptil di Tengah CFD
Lala mengaku telah memelihara ular piton miliknya selama kurang lebih empat tahun. Berawal dari hobi, aktivitas membawa ular ke CFD kini juga menjadi sarana edukasi sekaligus peluang menambah penghasilan.
“Awalnya hobby, Alhamdulillah bisa menghasilkan cuan juga disini (CFD Depok), rawat nya kurang lebih udah 4 tahun,” ujarnya.
Ia menjelaskan, ular peliharaannya bernama Dewi dan termasuk jenis Piton. “Namanya Dewi, dia (ular) perempuan, jenisnya Piton,” katanya.
Menurut Lala, perawatan ular tidak seseram yang dibayangkan banyak orang. Pakan ular berupa daging ayam dan bukan menggunakan tikus.
“Makannya daging-dagingan, seperti ayam, kalau tikus enggak,” jelasnya.
Untuk berswafoto dengan ular, pengunjung dikenakan tarif Rp10 ribu. Dana tersebut digunakan untuk biaya perawatan hewan.
Kehadiran reptil di CFD Depok mendapat sambutan positif dari pengunjung. Fitri (36), warga Depok yang datang bersama putrinya Nada (8), mengaku rutin mengikuti CFD dan merasa nyaman dengan kehadiran hewan-hewan tersebut.
“Sering kesini (CFD Depok), asli orang Depok saya, dia (anaknya) udah biasa sih, emang suka dia sama hewan,” ujar Fitri.
“Iya senang, enggak takut,” kata anak perempuannya saat mencoba menggendong ular piton yang melilit di tubuh mungilnya tersebut.
Iguana dan Satwa Endemik Jadi Daya Tarik
Selain ular, tak jauh dari titik spot reptil tersebut, hewan seperti iguana juga menjadi pusat perhatian pengunjung. Anak-anak tampak antusias, bahkan berani menggendong iguana.
Salah satunya Rachel, anak perempuan berumur 6 tahun tersebut mengaku merasakan sensasi berbeda saat pertama kali memegang reptil tersebut. Ia terlihat menggendong iguana berjenis Red Albino.
“Berat banget Iguana nya, geli gitu dibagian duri-duri badan nya,” ujarnya saat ditanya Reporter Liputan6.com sambil menggendong iguana.
Doni (30), pemilik iguana, mengatakan ia membawa beberapa jenis iguana untuk tujuan hiburan sekaligus edukasi.
“Kalau jenisnya ada banyak, ada Red Albino, ada yang Red, sama yang Albino biasa, ada yang Green juga banyak, Green Baby,” jelas Doni.
“Kalau yang Albino ini sudah hampir 3 tahun, kalau yang Red Albino yang paling besar ini sudah 5 tahun,” lanjutnya.
Doni juga memperkenalkan satwa endemik Indonesia kepada pengunjung. “Ini juga ada satu lagi jenis namanya Soa Layar, ini hewan endemik asli Indonesia dari Sulawesi,” katanya.
Menurut Doni, respons masyarakat sangat positif. “Bagus banget responnya, responnya juga baik, maksudnya kayak pada antusias ngeliatin gitu, terus juga excited banget karena jarang-jarang ngeliat juga,” ujarnya.
Ia mengaku datang secara perorangan dan belum tergabung dalam komunitas pecinta reptil. “Ada sebenarnya, cuma kita nggak masuk komunitas, kita perorangan, ada banyak yang nawarin sih masuk komunitas, cuma kita belum terlalu ke arah yang lebih besar lagi skalanya gitu” jelasnya.
Tantangan dan Perawatan Reptil
Doni juga menceritakan tantangan merawat reptil, terutama karena jumlahnya cukup banyak.
“Suka dukanya sih paling ya repotnya sih karena banyak ya bang, jadi kita harus satu-satu,” ujarnya.
Menurutnya, iguana merupakan hewan yang perlu sering berinteraksi agar tetap jinak.
“Emang harus di handle satu-satu nggak bisa langsung semua, karena dia tipikal hewan yang manja,” jelas Doni.
“Kalau nggak sering dipegang dia malah jadi galak,” tambahnya.
Ia juga menjelaskan perbedaan karakter iguana dan soa layar, baik dari sisi pakan maupun sifat defensif.
“Sayur sama buah-buahan, Iguana enggak mau makan serangga, daging juga enggak mau, dia emang pure vegetarian banget, beda sama Soa Layar, dia sayuran sama serangga juga mau," katanya.
Doni mengakui, merawat reptil membutuhkan perhatian ekstra, terutama soal kebersihan dan kebiasaan hewan tersebut.
“Jadi yang bikin agak report juga itu kotorannya, kalau kukunya itu juga agak bau, makanya harus saya sering bersihkan sama dijemur setiap hari,” ujarnya.
Ia menjelaskan, proses menjinakkan reptil idealnya dilakukan sejak usia dini agar hewan terbiasa dengan manusia.
“Menjinakkannya sih sebenarnya dari baby ya, sering kita ngasih makan sambil dipegang, dia bakal jinak sendiri. Tapi kalau kita dapet pas sudah besar, misalnya dari alam liar, itu kita butuh bonding yang lebih lama lagi waktunya, karena dia masih defensif banget kalau yang udah besar, beda rawa dari kecil,” jelas Doni.
Hewan Aman Dipelihara
Menurutnya, reptil yang dibawa ke CFD Depok merupakan hewan yang sudah lama dipelihara sejak kecil sehingga relatif jinak dan aman untuk interaksi terbatas dengan pengunjung.
“Ini yang kita bawa di CFD udah dari kecil, karena dia udah nggak ada defense lagi sama kita, karena dia udah biasa sama kita gitu,” katanya.
Ia juga menerangkan perbedaan karakter antara iguana dan soa layar, terutama terkait sifat defensif.
“Kalau Soa Layar gigit, karena dia emang tipikal hewan yang lebih agresif ya kalau Soa Layar dibanding Iguana defense nya sama sabetan ekor, cuma karena udah pada anteng (jinak) dia nggak gitu lagi. Kalau yang di alam liar mereka defense,” ujarnya.
Doni menegaskan, meski terlihat agresif, soa layar tidak memiliki bisa atau racun. “Gigit pun Soa Layar nggak ada bisa (racun), dia cuma gigit ngelukain buat perlindungan dirinya aja,” tutupnya.
Melalui CFD Depok, warga tidak hanya mendapatkan ruang untuk berolahraga dan berekreasi, tetapi juga kesempatan mengenal lebih dekat berbagai jenis satwa, khususnya reptil, secara langsung di ruang publik.

12 hours ago
10


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5501191/original/029485900_1770889140-Kapolres_Bima_Kota_AKBP_Didik_Putra_Kuncoro.webp)











English (US) ·